Sungai Mekong

Pemandangan sekitar Sungai Mekong (dari perahu)

Pemandangan sekitar Sungai Mekong (dari perahu)

Perahu2 sekitar Sungai Mekong

Perahu2 sekitar Sungai Mekong

Mendengar kata Vietnam, saya sering membayangkan suasana Jakarta tahun 70-an. Walaupun saya sering juga dengar keindahan Vietnam dan kabar bahwa jalan-jalan di negara ini masih tergolong murah.

 

Akhirnya, tiga tahun lalu saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Vietnam. Saya baru tahu kalau Saigon itu nama jadulnya Ho Chi Minh City. Akhirnya saya tahu juga kalau Ho Chi Minh adalah tokoh revolusi dan negarawan Vietnam. Sehingga namanya diabadikan menggantikan nama Saigon.

 

Ketika pesawat baru saja mendarat dan masih berjalan di landasan pacu bandara Ho Chi Minh City, saya perhatikan masih ada “bunker” (perkubuan atau tembok pertahanan) sisa perang masih dibiarkan di sepanjang landasan.

 

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah lalu lintasnya. Jumlah motor di kota ini jauh lebih banyak daripada mobil! Sementara di jalan utama Jakarta, paling tidak jumlah mobil lebih banyak atau seimbang dengan motor.

 

Beda dengan imajinasi saya, tidak ada lagi cewek Vietnam pakai “Ao Dai” (baju tradisional Vietnam) naik sepeda di tengah kota. Kota ini sudah jauh lebih maju dari bayangan saya. Ho Chi Minh City tidak seperti Jakarta di tahun 70-an, tapi mungkin seperti awal 2000-an.

 

Hal kedua yang membuat saya senyum sendiri adalah bentuk helm yang dipakai pengendara motor. Helm di Jakarta bentuknya penuh menutupi seluruh kepala. Sementara helm di Vietnam bentuknya ½ atau ¾ jadi mirip pakai helm batok kelapa.

 

Salah dua dari pusat atraksi yang sering didatangi turis asing adalah Mekong Delta (Sungai Mekong) dan Cu Chi Tunnels (Terowongan Cu Chi). Atas kebaikan seorang teman, saya dijemput oleh mobil agen perjalanan lokal yang membawa beberapa turis ini menuju Mekong Delta.

 

Perjalanan ke Mekong Delta sekitar 3 jam. Jarak sekitar 150 km sebenarnya bisa ditempuh lebih cepat namun padatnya lalu lintas tidak memungkinkan. Akhirnya kami sampai di pelabuhan yang banyak perahu kayunya.  Perahu tersebut yang membawa turis menelusuri sungai.

 

Grup saya terdiri dari sekitar delapan orang, datang dari penjuru dunia, ditambah dua orang kru perahu. Sepanjang perjalanan, semua sibuk dengan kamera dan khayalan masing-masing. Ketika ada tiga orang dipinggir sungai melalukan suatu kegiatan, kita bertanya antar sesama. Serunya, semua melongo ketika tahu apa yang mereka lakukan; mereka sedang menguliti hewan! Aduh! Jangan kaget, tapi kelihatannya hewan tersebut adalah seekor anjing.

 

Pemberhentian pertama adalah sebuah desa yang kerajinan penduduknya berupa makanan ringan khas Vietnam. Mirip dengan ting ting kacang di Indonesia. Ada juga seperti kue satu dari sagu. Jadi ingat waktu SD, kalau saya makan kue ini, saya tiup-tiup supaya bersemburan kemana-mana!

 

Rupanya desa ini terkenal dengan usaha industri rumahnya. Selain makanan ringan tersebut, penduduknya memproduksi “rice paper” yang mirip kulit lumpia tapi lebih kering. Rice paper dibuat dari kanji dan banyak dikonsumsi di Vietnam untuk bikin lumpia atau banyak makanan khas Vietnam lainnya.

 

Desa di tempat pemberhentian kedua, kami mampir di sebuah rumah tradisional dan disuguhkan kesenian lokal mirip sandiwara dengan nyanyian Vietnam diiringi alat instrumen traditional. Lagi-lagi kami mencoba buah dan makanan ringan Vietnam, dan teh lokal tentunya.

 

Makan siang dengan makanan lokal disajikan di tempat pemberhentian ketiga. Restoran ini berbentuk pondokan dan tidak jauh dari sungai. Jadi kami keluar dari perahu, lompat menyeberangi perahu lainnya, sampailah di pondokan. Setelah makan siang, saya berjalan-jalan disekitar pondokan sebelum naik lagi ke perahu. Di sebuah kandang dekat pondokan tersebut, ada seekor hewan piaraan yang meliuk-liuk didalamnya yaitu seekor ular besar!

 

Perjalanan berlanjut dengan menelusuri sungai. Angin berhembus sepoi-sepoi, perut penuh setelah makan siang, hari semakin siang mata semakin berat. Di beberapa titik di sepanjang sungai, beberapa perahu bersatu menjadi seperti desa terapung, anak-anak kecil bermain lompat dari perahu berenang-renang di sungai.

 

Akhirnya grup kami kembali dengan selamat ke pelabuhan yang sama, dan mobil yang sama membawa kami kembali ke Ho Chi Minh City. Perlu waktu hampir seharian berwisata ke Mekong Delta, mulai jam 8 pagi dan kembali jam 5 sore.

 

Sampai di hotel, badan lengket penuh keringat dan pegal2 campur excited sama foto2 Sungai Mekong…

 

Besok jalan ke tempat tujuan yg berbeda…

 

Cu Chi Tunnels alias terowongan Cu Chi yg dulu dipakai di jaman perang dengan tentara Amerika. Bulu kuduk agak merinding… Lanjut?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s