Diskusi Panel – Buruh Migran Indonesia di Hong Kong International Literary Festival

* Tulisan ini pernah saya muat di blog saya yang berbahasa Inggris, karena kagumnya saya dengan prestasi rekan-rekan BMI (Buruh Migran Indonesia) di Hong Kong, akan saya muat sekali lagi di blog ini.

HK International Literary Festival 2013

HK International Literary Festival 2013

No expectation! Ngak ada bayangan macam2 sebelum datang ke acara “Hong Kong International Literary Festival”.

Banyak sesi dari penulis terkenal yang sayangnya saya tidak kenal.Namanya festival internasional, penulisnya pasti dari dunia internasional, mungkin karena itu saya tidak kenal. Maklum selama beberapa bulan terakhir ini di Hong Kong saya kebanyakan main dan wisata kuliner cari masakan Indonesia.

Setelah browsing mencari sesi yang seru di festival sastra ini, dan setelah lumayan lama masa vakum (Bukannya “no mood” tapi “tar sok, tar sok” alias ntar besok dan waktu terus berjalan), untuk membangkitkan kembali semangat menulis, saya datanglah ke acara ini.

Festival Sastra Internasional yang setiap tahun diadakan di Hong Kong, pada tahun ini menyertakan tulisan-tulisan karya penulis migran Indonesia.

3 Penulis yg diundang

Acara pada Minggu, 3 November 2013 ini menghadirkan tiga penulis migran Indonesia yang bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Hong Kong. Mereka tampil membacakan karya mereka di Mcaulay Studio di Hong Kong Art Center.

Devi Novianti dari Equal Opportunity Commission sebagai moderator membuka acara dengan memperkenalkan Yuni Sze dari Majalah Indonesia Apakabar. Yuni bercerita tentang FLP sebagai wadah para penulis migran Indonesia memuaskan bakat menulis mereka. Didirikan tahun 2004, selain di Indonesia, FLP mempunyai cabang di Malaysia, Saudi Arabia dan Hong Kong, dll. Tiga diantara anggotanya di Hong Kong, Susie, Yulia dan Pandan yang bekerja sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI) bercerita mengenai perjalanan mereka yang jauh dari rumah dan keluarga, kesendirian yang mereka hadapi, pengalaman baru di tempat yang baru dan berbagai permasalahan yang menghampiri.

Susie Utomo sudah bekerja di Hong Kong selama tujuh tahun dan mendirikan majalah CahayaQu di tahun 2012. Ceritanya mengenai seorang tua yang membenci pembantu rumah tangganya dan mengganggapnya sebagai “pengganggu”. Sang pembantu dianggap suka mengontrol dirinya sehingga mengganggu kebebasannya karena suka memberikan perintah untuk makan/minum, dan minum obat. Pada akhirnya sang orang tua ini sadar bahwa ia membenci sang pembantu karena dia merindukan anak-anaknya dan berharap anak yang merawatnya.

Yulia Jafar Purwanto sudah menerbitkan ceritanya di koran/tabloid Indonesia; Tabloid Nyata, Radar Bromo, dan juga koran Indonesian di Hong Kong yang antara lain Berita Indonesia dan Apakabar.

Ceritanya berjudul “Selendang Merah” mengenai seorang BMI yang suka menari tarian tradisional. Ia juga bercita-cita melestarikan budaya ini di negeri orang. Sayangnya, keinginan ini tidak didukung oleh sang majikan yang bukan saja tidak menyukai kegiatan tersebut tetapi juga memotong haknya dengan tidak memberikan hari libur.

Bertolak belakang dengan cerita Yulia, dalam keseharian kerjanya, majikannya mendukung bakat menulisnya.

Artikel Pandan Arum beberapa kali telah diterbitkan di koran berbahasa Indonesia di Hong Kong, misanya Suara, Apakabar, Iqro, Berita Indonesia. Bukunya bersama anggota FLP yang telah terbit antara lain Penjajah di Rumahku (kumpulan cerita pendek) dan Senandung Mimpi Hawa (kumpulan puisi).

Ia mendapat ide ketika membersihkan lantai dan akhirnya jadi satu cerita yang diberi judul “Tuntutan Pelacur”. Seperti judulnya, kisah ini mengenai hidup seorang pelacur, mengapa ia menjalaninya dan pengalamannya dilecehkan oleh pria bahkan ketika ia bekerja bukan sebagai pelacur tetapi sebagai pembantu rumah tangga.

Ketiga buruh migran ini bekerja untuk keluarga-keluarga di Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga penuh waktu, enam hari seminggu dan satu hari libur. Walaupun sibuk kerja, mereka menyisihkan waktu untuk hobby menulis. Salah satunya berkata ia menulis di tengah malam setelah shalat malam, bahkan dulu dia menulis di lantai dapur. Satu orang lainnya menulis di siang hari ketika anak-anak majikannya sekolah.

Ide menulis datang dari mana saja. Pandan mendapat ide menulis mengenai pelacur ketika ia membersihkan lantai. Menurutnya, ada kesamaan antara pelacur dan pembantu rumah tangga. Keduanya sering dilecehkan oleh majikan. Tetapi, hal itu tergantung pada orang sekitar. Dalam cerita hidupnya, ia dikelilingi oleh keluarga yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga diluar negeri, dan bisa jadi ini yang mendukungnya memilih pekerjaan ini.

Sam Aryadi, Wakil Konsul Consul (Informasi, Budaya dan Protokoler) Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong yang telah bekerja di Hong Kong selama tujuh tahun, mengatakan bahwa pemerintah menyadari potensi/bakat yang dimiliki oleh buruh migran ini. Dalam acara Diaspora Indonesia bulan Agustus lalu, sebagian dari mereka diperkenalkan lebih luas lagi ke masyarakat Indonesia. Salah satu tujuannya adalah menyoroti bakat kepandaian mereka dan semoga dalam jangka panjangnya,pemerintah mendapatkan bantuan lebih luas lagi dari berbagai pihak terkait jika diperlukan.

Panel Diskusi

Masalah yang dihadapi buruh migran misalnya pembayaran upah dibawah minimum dan pelanggaran hak misalnya tidak diberikan hari libur masih terjadi. Dalam beberapa kasus malah lebih buruk lagi. Shelter (tempat bernaung) dan Konsulat adalah rumah bagi buruh migran yang memerlukan pertolongan.

Peluk aku
Katakan, betapa engkau sangat mencintaiku
Dengan lisanmu, dengan keberadaanmu buatku setiap waktu
Jangan lagi salah memberi
Yang aku minta hanya dirimu; ibu!
Bukan harta, bukan mainan mewah, bukan sekolah…bukan!
Ketika engkau mengabaikanku dengan dalih demi bayar biaya hidup……

Puisi diatas adalah hasil karya Susie berjudul “Menanti Ibu” dibacakan di akhir acara. Hanyalah sebagian dari puisi tersebut, tapi sangat jelas menuturkan perasaan anak-anak Buruh Migran Indonesia yang ditinggalkan oleh ibu mereka bekerja jauh diluar negeri.

Yang jelas saya kagum dan salut atas prestasi rekan2 BMI di Hong Kong.

Speechless, effortless dan malu ke diri sendiri kenapa males2an nulis. Everything happens for a reason. Sekarang saya tahu kenapa saya terpilih datang ke acara ini, supaya sadar dan semangat nulis lagi. Ayo!

# Keterangan lebih lanjut mengenai “Hong Kong Literary Festival”, silakan klik http://www.festival.org.hk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s